Penyebab Sapardi Djoko Damono Meninggal Dunia karena Apakah itu?


Terungkap penyebab sastrawan Sapardi Djoko Damono meninggal dunia karena mengalami penurunan fungsi organ.

Penyebab kematian Sapardi Djoko Damono ini dibeberkan oleh Marketing Communication Manager RS Eka Hospital Erwin Suyanto.

Seperti diketahui, Sapardi Djoko Damono baru saja meninggal dunia hari ini, Minggu (19/7/2020), sekitar pukul 09.17 WIB, di Eka Hospital BSD, Tangerang Selatan. 

Kabar duka ini disampaikan oleh akun Facebook Dody Yan Masfa. 

Kemudian kebenaran berita ini disampaikan oleh Kepala Biro Humas dan Kantor Informasi Publik Universitas Indonesia (UI), Amelita Lusia.

"Ya, Mas," ujarnya saat dihubungi Kompas.com.

Rumah Sakit BSD Eka Hospital juga membenarkan kabar meninggalnya sastrawan Indonesia Sapardi Djoko Damono.

Seperti dilansir dari Kompas.com dalam artikel 'Sapardi Djoko Damono Meninggal, Alami Penurunan Fungsi Organ'

"Betul, beliau sudah berpulang," tutur Marketing Communication Manager RS Eka Hospital Erwin Suyanto dalam pesan teks saat dikonfirmasi Kompas.com, Minggu (19/7/2020).

Erwin menjelaskan, penyebab sastrawan kelahiran 20 Maret 1940 itu meninggal dunia disebabkan oleh penurunan fungsi organ.

"Penurunan fungsi organ ya," kata dia.

Erwin mengatakan hanya sedikit yang bisa diinformasikan oleh RS Eka Hospita.

Penyebab kematian dan penjelasan lebih detail dilimpahkan oleh pihak keluarga.

"Untuk selanjutnya keluarga akan memberikan keterangan ya," kata dia.

Berkaca dari penyebab kematian Sapardi Djoko Damono, sebenarnya apa itu penurunan fungsi organ?

Melansir dari laman Alodokter, penurunan fungsi organ adalah kondisi dimana organ-organ tubuh tidak bekerja dengan semestinya akibat proses penuaan.

Penuaan dapat berpengaruh pada seluruh bagian tubuh, mulai dari rambut, kulit, otot, tulang, gigi, serta organ-organ tubuh, seperti otak, ginjal, dan jantung.

Perubahan tersebut bisa berdampak pada kondisi kesehatan lansia.

Penurunan fungsi organ yang terjadi seiring pertambahan usia dapat menyebabkan beragam gangguan kesehatan.

Berikut ini adalah lima penyakit yang sering diderita oleh kaum lansia:

1. Inkontinensia urine

Inkontinensia urine adalah kondisi di mana seseorang tidak mampu mengontrol proses berkemih, sehingga sering mengompol.

Kaum lansia rentan mengalami penyakit ini akibat kekuatan otot di sekitar kandung kemih dan saluran kencing yang melemah seiring bertambahnya usia.

Kondisi ini juga bisa terjadi karena adanya gangguan saraf yang mengatur proses berkemih atau karena ada sumbatan pada saluran kemih. Untuk mengatasi kondisi ini, dokter dapat memberikan obat-obatan dan menyarankan latihan Kegel, fisioterapi, atau bahkan operasi.

2. Stroke

Orang yang terkena stroke akan mengalami kelemahan atau kelumpuhan pada beberapa bagian tubuh.

Setelahnya, penderita stroke bisa mengalami gangguan dalam bergerak dan bicara.

Gangguan ini bisa bersifat sementara, namun bisa juga menetap.

Itulah sebabnya, orang yang baru sembuh dari stroke perlu menjalani fisioterapi untuk memulihkankan fungsi tubuhnya.

Penderita stroke juga mungkin akan membutuhkan bantuan orang lain selama beberapa waktu dalam melakukan aktivitas sehari-hari, seperti makan, mandi, berpakaian, dan buang air kecil atau buang air besar.

3. Diabetes

Diabetes adalah penyakit yang ditandai dengan tingginya kadar gula darah di dalam tubuh.

Kadar gula darah yang tinggi dan tidak terkontrol ini dapat membuat penderita diabetes kerap merasa haus.

Mereka menjadi sering minum dan otomatis akan sering buang air kecil.

Beberapa gejala lain dari penyakit diabetes ini, yakni sering kesemutan, mati rasa, luka lama sembuh, dan cepat lelah.

Selain itu, penyakit diabetes yang tidak terkontrol dalam jangka panjang dapat merusak pembuluh darah dan saraf.

Akibatnya, penderita diabetes bisa mengalami kesemutan, mati rasa, atau bahkan sering mengompol akibat kerusakan pada saraf yang mengontrol proses berkemih.

Untuk mengatasi gangguan ini, penderita diabetes perlu mengontrol kadar gula darah dengan mengonsumsi obat-obatan dan menerapkan gaya hidup yang sehat.

Kebersihan penderita diabetes juga perlu dijaga dengan baik, agar tidak mengalami infeksi.

4. Hipertensi

Tekanan darah tinggi atau hipertensi didefinisikan sebagai tekanan darah yang mencapai nilai 130/80 mmHg atau lebih.

Penyakit ini umumnya tidak bergejala, namun beberapa penderitanya dapat mengalami keluhan pusing, mimisan, atau napas terasa berat.

Hipertensi yang tidak diobati bisa menyebabkan serangan jantung, gangguan ginjal, gangguan penglihatan, dan stroke.

Untuk mengatasi hipertensi dan membantu mengontrol tekanan darah, dokter biasanya akan meresepkan obat penurun tekanan darah.

Salah satu jenis obat penurun tekanan darah ini adalah obat golongan diuretik. Ketika mengonsumsi obat ini, pasien akan menjadi lebih sering berkemih.

Selain dengan obat, hipertensi juga bisa diobati dengan gaya hidup sehat, termasuk menjalani diet rendah garam.

5. Penyakit jantung

Kekuatan otot jantung lansia dapat menurun, begitu juga dengan fungsinya dalam memompa darah.

Apalagi jika lansia jarang berolahraga sejak muda, atau memiliki penyakit darah tinggi (hipertensi) dan aterosklerosis.

Penyakit jantung yang sering menyerang lansia adalah penyakit jantung koroner, gagal jantung, dan serangan jantung.

Bagi lansia yang memiliki penyakit jantung, dokter akan memberikan obat-obatan untuk memperkuat kerja jantung, mengurangi beban kerja jantung, dan mencegah komplikasi.

Bila perlu, dokter juga akan menyarankan operasi jantung.

Lansia yang mengalami penyakit-penyakit di atas, apalagi jika kondisinya sudah parah, akan mengalami keterbatasan dalam bergerak dan melakukan aktivitas. Bahkan sebagian di antaranya harus berbaring di tempat tidur untuk waktu yang lama.

Hal ini dapat menimbulkan masalah baru, seperti infeksi paru-paru atau ulkus dekubitus.

Masalah yang paling umum dialami oleh lansia pada kondisi ini adalah kesulitan untuk buang air besar (BAB) dan buang air kecil (BAK).

Selain karena gerakannya terbatas, beberapa penyakit dan obat-obatan membuat lansia menjadi sering BAK dan tidak dapat mengontrolnya, sehingga akhirnya sering mengompol.

Oleh karena itu, lansia membutuhkan popok dewasa. Namun, jangan sembarangan memilih popok dewasa.

Pilihlah popok yang ukurannya pas, berbahan lembut, serta memiliki daya serap yang baik. Jangan lupa untuk mengganti popok secara teratur agar terhindar dari iritasi kulit di sekitar bokong dan lipat paha, yang dapat berkembang menjadi infeksi.

Biodata Sapardi Djoko Damono

Melansir dari laman Wikipedia, Sapardi Djoko Damono lahir di Surakarta pada 20 Maret 1940.

Ia merupakan sastrawan besar Indonesia, sekaligus akademisi dari Universitas Indonesia. 

Sapardi Djoko Damono tercatat sebagai lulusan SMP Negeri 2 Surakarta tahun 1955.

Kemudian melanjutkan pendidikan di SMA Negeri 2 Surakarta tahun 1958.

Pada masa ini, SDD sudah menulis sejumlah karya yang dikirimkan ke majalah-majalah.

Kesukaannya menulis ini berkembang saat ia menempuh kuliah di bidang Bahasa Inggris di Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta.

Tahun 1973, Sapardi Djoko Damono pindah dari Semarang ke Jakarta untuk menjadi direktur pelaksana Yayasan Indonesia yang menerbitkan majalah sastra Horison. 

Sejak tahun 1974, ia mengajar di Fakultas Sastra (sekarang Fakultas Ilmu Budaya) Universitas Indonesia, tetapi kini telah pensiun.

Sapardi Djoko Damono pernah menjabat sebagai dekan FIB UI periode 1995-1999, kemudian menjadi guru besar.

Saat itu pula Sapardi Djoko Damono juga menjadi redaktur majalah Horison, Basis, Kalam, Pembinaan Bahasa Indonesia,

Majalah Ilmu-ilmu Sastra Indonesia, dan country editor majalah Tenggara di Kuala Lumpur.

Semasa hidupnya, Sapardi Djoko Damono aktif mengajar di Sekolah Pascasarjana Institut Kesenian Jakarta sambil tetap menulis fiksi maupun nonfiksi.

Karya-karya Sapardi Djoko Damono

Duka-Mu Abadi (1969)
Lelaki Tua dan Laut (1973; terjemahan karya Ernest Hemingway)
Mata Pisau (1974)
Sepilihan Sajak George Seferis (1975; terjemahan karya George Seferis)
Puisi Klasik Cina (1976; terjemahan)
Lirik Klasik Parsi (1977; terjemahan)
Dongeng-dongeng Asia untuk Anak-anak (1982, Pustaka Jaya)
Perahu Kertas (1983)
Sihir Hujan (1984; mendapat penghargaan Puisi Putera II di Malaysia)
Water Color Poems (1986; translated by J.H. McGlynn)
Suddenly The Night: The Poetry of Sapardi Djoko Damono (1988; translated by J.H. McGlynn)
Afrika yang Resah (1988; terjemahan)
Mendorong Jack Kuntikunti: Sepilihan Sajak dari Australia (1991; antologi sajak Australia, dikerjakan bersama R:F: Brissenden dan David Broks)
Hujan Bulan Juni (1994)
Black Magic Rain (translated by Harry G Aveling)
Arloji (1998)
Ayat-ayat Api (2000)
Pengarang Telah Mati (2001; kumpulan cerpen)
Mata Jendela (2002)
Ada Berita Apa hari ini, Den Sastro? (2002)
Membunuh Orang Gila (2003; kumpulan cerpen)
Nona Koelit Koetjing: Antologi cerita pendek Indonesia Periode Awal (1870an - 1910an)" (2005; salah seorang penyusun)
Mantra Orang Jawa (2005; puitisasi mantra tradisional Jawa dalam bahasa Indonesia)
Before Dawn: The Poetry of Sapardi Djoko Damono (2005; translated by J.H. McGlynn)
Kolam (2009; kumpulan puisi)
Sutradara Itu Menghapus Dialog Kita (2012; kumpulan puisi)
Namaku Sita (2012; kumpulan puisi)
The Birth of I La Galigo (2013; puitisasi epos "I La Galigo" terjemahan Muhammad Salim, kumpulan puisi dwibahasa bersama John McGlynn)
Hujan Bulan Juni: Sepilihan Sajak (edisi 1994 yang diperkaya dengan sajak-sajak sejak 1959, 2013; kumpulan puisi)
Trilogi Soekram (2015; novel)
Hujan Bulan Juni (2015; novel)
Melipat Jarak (2015, kumpulan puisi 1998-2015)
Suti (2015, novel)
Pingkan Melipat Jarak (2017;novel)
Yang Fana Adalah Waktu (2018;novel)

Sumber : https://surabaya.tribunnews.com/2020/07/19/penyebab-sapardi-djoko-damono-meninggal-dunia-karena-mengalami-penurunan-fungsi-organ-apakah-itu?page=4

Berlangganan update artikel terbaru via email:

0 Response to "Penyebab Sapardi Djoko Damono Meninggal Dunia karena Apakah itu?"

Posting Komentar

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel